Kita yang mencari bahagia

Gambar terkait

Sudah kupastikan kita ini orang yang ingin bahagia. Bagaimana denganmu ? Walau tak ada yang dapat memastikan semua akan baik-baik saja. Seperti daun hijau dengan embun pagi, pasti akan menguning lalu mengering juga. Lalu angin membawanya menjauh dan jatuh dari ranting.Terkadang saat semua yang terfikirkan baik-baik saja dan semua yang menyenangkan. Tiba-tiba ada saja yang mengusik dan menghancurkannya.

Kamu merasakan seperti hal itu. Saat yang kamu kasihi menjadi daun yang jatuh dari dahannya. Memilih mengembara terbang bersama angin. Meningkalkan dahan sebatang kara. Bahagia hilang disetiap harinya, dan dahan itupun patah layaknya hatimu. Hingga akhirnya kamu tak lagi percaya akan kebahagian, kita pun bertemu. Aku tak jauh berbeda denganmu, sejak perjumpaan itu aku merasa kita punya kesamaan. Hal yang akhirnya kita percaya menjadi perasaan yang menyatukan. Kita yang dulu dilepaskan begitu saja. Ditinggalkan tanpa alasan oleh bahagia.

Perasaan itu membentuk sepakat diantara kita. Kita sama-sama mencari kebahagiaan yang terbunuh. Kita pupuk kembali rasa senang yang telah mati. Akhirnya hadir kembali rindu yang membawa bahagia. Dan kini pun aku kembali percaya, bahagia itu nyata. Bahwa bahagia tak pernah habis, walau saat aku menangis, bahagia akan selalu ada. Aku hanya perlu menanti, meyakini segala hal akan pulih kembali. Kebahagian yang hancur itu, akan kembali lagi oleh orang baru. Seseorang yang kupercaya adalah kamu.

Setiap hari dengan kebahagian seolah membuat kita hilang ingatan. Memudar sudah rasa pedih dan sedih. Melenyap bersama kebersamaan. Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Kita yang dulu bersedih kini bisa tersenyum kembali. Mampu percaya lalu tertawa, bahwa semua akan baik-baik saja. Meski suatu waktu, aku merasa kamu sedang berpura-pura. Kamu tak benar-benar bahagia. Di dalam matamu, masih saja terlihat seseorang yang kamu puja dahulu.

Blangpidie, 27 November 2016 (Hujan masih membasahi kota blangpidie/ 18:35 WIB)



Postingan populer dari blog ini

Mengapa Membenci Hujan ?

Kita seperti ini karna didikan

Kenangan dan luka manis