Hujan, untuk kisah kita yang usai sudah

Hasil gambar untuk hujan dan sendiri
Hujan turun membasahi rindu.

        Dahulu, kita pernah saling menguatkan. Pernah sangat takut akan kehilangan. Kau adalah seseorang yang kucintai sangat. Sementara bagimu aku adalah orang dengan pembuktian dan pengorbanan paling hangat. Seseorang yang kamu inginkan berlama-lama denganmu. Menikmati hujan tak peduli membunuh waktu. Kita tak peduli hujan atau badai dan kekacauan disana, pikiran kita tak kemana-mana. Kita hanya sedang berdua. Segalanya terasa seolah sempurna. Andai saja waktu berjalan lebih lambat.  Menikmati segala gundah gulana dan setiap hal yang kau coba sembunyikan. Kamu adalah bagian terindah dari hujan, karna membuatku betah berlama-lama tanpa perlu mengatur tujuan.
          Kita sering berdoa agar hujan turun lebih lama, agar tak punya alasan untuk kemana-mana. Sebab, katamu, jika bersama apapun akan terasa hangat, tak peduli betapa dinginnya hujan yang turun, kamu selalu percaya, hujan tak lebih dingin dari kesendirian ketika rindu hadir. Dan kulihat kau tak mampu bertahan sendiri. Rindu dan hujan kala sendiri adalah hidup sepi. Lebih lama hujan turun, lebih lama denganmu, aku merasa hidup lebih berarti dan merasa hidup ini perlu. Itulah yang membuatku terus bertahan. Hujan dan kamu adalah kenangan yang tak pernah lapuk dari ingatan.
          Namun, kini seolah sedih dan hujan adalah teman sejalan. Aku tidak bisa lagi berlama-lama saat hujan turun. Meski setiap hujan turun, aku selalu menemukanmu dalam ingatan. Seseorang yang dulunya bersikeras mengajakku bertahan. Katamu, apapun yang terjadi tetaplah denganku. Begitu manis dan selalu menguatkan. Hal yang sulit membuatku untuk merelakan, bahkan dalam ingatan. Kamu kini hanyalah sepenggal kisah sedih yang meninggalkan pedih. Dan mengapa setiap kali hujan turun aku harus mengenangmu. Ingin lari, ingin menyudahi, tetapi hati dan segala hal yang pernah terjadi, tak mau lagi peduli. Hujan kini tak lagi menyenangkan. Hanya turun dengan rasa rindu yang berakhir pilu.

Blangpidie, 16 November 2016 – 20.35 WIB (Hujan turun membasahi rindu)
         


Postingan populer dari blog ini

Mengapa Membenci Hujan ?

Kita seperti ini karna didikan

Kenangan dan luka manis